Pengantar kematian rasa
Tamaram cahaya lampu diujung jalan, sepi dan terasa agak mencekam, penuh kebisuaan, seakan menguburkan rahasia pilu seorang anak manusia yang mencari sesuap nasi untuk kedua buah hatinya.
Sesekali terdengar suara-suara getir sang bulan yang beberapa hari ditinggalkan bintang, berdesir bersama cumbuan angin malam, seakan menambah penderitaan sang budak Tuhan.
Langit seakan menjaga jarak, enggan bersahabat, penuh kesombongan disertai sang awan yang bergumul dengan kegelapan menjadikan malam begitu kelam.
Sesosok dara berambut panjang, dengan selembar kain bewarna merah yang membalut tubuh itu, berjalan lunglai melangkah perlahan menelusuri lorong gelap kawasan stasiun hall, dingin basah menyayat.
Raut wajah senduh terselubung bedak yang sudah agak luntur akibat dari butiran keringat sang pemakai jasa lubang kenikmatannya, tergerai uraian rambutnya seakan-akan semakin menambah kecentilannya malam itu.
Sayup-sayup terdengar isakan, rintihan sang hati yang terbakar oleh keadaan sambil terlantunkan sebait kata penuh penyesalan. Matanya begitu redup mengisyaratkan kedukaan yang dalam, seribu tanya dihati takkan terjawab.
Tiba-tiba sekejab sambaran kilat menghentakannya, membuatnya terjaga dari lamunan persetubuhan pikiran dan perasaannya mengaburkan mimpinya tentang keindahan kehidupan sang kaya malam ini.
Tak terasa dari kejauhan sebongkah burung malam meringis merintih lirih pelan dan tertatih, ketakutan akan sang fajar yang sebentar lagi membelah kesunyian malam membuatnya terkenang akan kotornya udara siang pengantar tidurnya.
Tak jauh dari burung malam secarik burung gagak berjalan penuh dengan kesombongan. Sorot matanya begitu sinis penuh kepuasan, sehabis menyantap dua ekor tikus got, darah masih terlihat begitu segar disela-sela parunya yang sudah agak terlihat bengkok. penuh angkuh seakan-akan layaknya sang dia yang selalu merusak batas-batas keidahan pikiran merdeka dari ketidak berdayaan terhadap sikap sang manusia.
Sayang sunggu malang nasibmu sang burung malam sebentar lagi kau akan rasakan panasnya fajar megorek bulu-bulumu sampai ketulang-tulang, rasakanlah sambil kembali berjalan menerobos keangkuhan.
Sementara disudut sang kota kembali terdengar langkah sang dara, kembali menyongsong sang pagi yang mungkin menjadi sebuah perjalanan yang indah yang digariskan untukku.
Kembali kulalui hari dalam senyuman, penuh keceriaan dan canda, tapi sayang anganku tentang keindahan kembali hilang. Setitik noda telah leburkan harapanku, mimpi indahku buyar oleh lamunan tak terkendali akan nasib belayan jiwaku buah kasih sayangku, kedua anakku yang mungkin sudah terbangun mencari sang ibu untuk bertanya "hari ini kita sarapan apa, bu".
Sesuatu yang begitu indah terdengar dari sang buah hatiku. Harapku terkubur dalam tumpukkan kekesalan yang kadang menghantui anganku tuk merasakan keindahan dunia, siapa aku? harus kemana kulangkahkan kakiku agar kedua buah hatiku mampu menggapai hari esok dengan wajah keangkuhan.
Kadang tak seorang pun mampu tuk menjawab pertanyaanku tak terkecuali sang penguasa alam dan kegelapan. Keangkuhannya membuatku terseok, tercabik, terlempar. Dimana ku harus labuhkan harapanku tentang keindahan dunia kekayaan materi.
Dalam gelap cahaya matahari kulihat sesosok manusia yang diliputi aura kebohongan, dilapisi dengan keringat darah kaum terbuang, manis namun kelihatan penuh dengan intrik kehidupan, membuatku tersadar akan sesuatu realitas yang selama ini tak kuketahui, kebohongan jadi topeng kehidupan.
Kedustaan yang terpanggang kebaikan membuai kasat mata sang mahluk awam. Terpana aku begitu terpana, kenapa sang penguasa ada dijalan, sedang apa dia apakah dia sengaja tuk turun kejalan melihat nasib rakyatnya atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati malam sambil melirik kiri kanan kupu-kupu malam.
Kucoba tuk mendekat mengamati dengan jelas raut muka sang sosok tersebut. Alangkah terkejutnya aku ketika aku melihat dengan jelas darah bercucuran dari sela-sela mulutnya, serta sobekan daging di sekitar leher disertai erangan yang sunggu menyayat, layaknya suara kematian.
Kucoba kuatkan rasa walau sebenarnya aku juga tak tau harus berbuat apa, tapi tiba-tiba tanpa kusadari suasana yang tadi sungguh mencekam tiba-tiba berubah menjadi pesta, pesta yang dihadiri sampah-sampah kehidupan mereka bernyayi, menari-nari dan tak lupa mereka juga berteriak mengungakapkan perasaan yang selama ini mereka pendam.
Sambil berucap mereka berkata esa hilang dua terbilang diiringi sesayup puisi pengantar kematian dari sang absurd.
Kenapa kau berikan dia kemiskinan, sedang yang lain kau beri kesenangan, katanya kau mahluk paling adil
bijaksana, penuh keagungan.
Kenapa kau ciptakan kemungkaran,
memperbanyak penindasan,
sedang ia kau beri tanah yang berlimpah, sampai-sampai jadi semak belukar.
Kenapa kau panjangkan umurnya yang penuh dengan dosa, sedang yang lain kau cabut seenaknya dengan alasan takdir. Inikah yang namanya naskah atau ini hanyalah kesombonganmu untuk membuktikan bahwa kau adalah segalanya.
(kie 99.......Saat Jiwa Dibendung Dendam)
Jumat, 20 November 2009
RENCANA SANG ANGKUH
Label: Rencana Sang Angkuh
Diposting oleh Kie Guevara di 04.55
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar